Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Status Gizi Pada Siswa Kelas Iv Dan V Sdn Ciputat 1 Tangerang Selatan Banten Tahun 2014
tuti m. nur;
Klasifikasi: NONE
ABSTRAK
Masalah gizi memasuki gizi ganda, yaitu kondisi kurus dan berat badan lebi Oleh karena itu penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungnan dengan status gizi pada siswa kelas IV dan V SDN Ciputat 1 Tangerang Selatan Banten tahun 2014. Jenis penelitian ini merupakan survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas IV dan V SDN Ciputat I Tangerang Selatan Banten yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sehingga diperoleh 105 sampel. Analisa data yang digunakan adalah analisa univariat, analisa bivariat dengan menggunakan uji chi squere, dan analisa multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda. Hasil analisis univariat pada penelitian ini diperoleh prevalensi siswa yang mengalami status gizi baik adalah 53,3%, konsumsi zat gizi yang tidak sesuai standar adalah energi (67,6%), protein (74,3%), lemak (76,2%), karbohidrat (61,0%), sedangkan kategori sering adalah sarapan pagi (75,2%) dan makan jajanan (52,4%), jenis kelamin perempuan (61,9%), pendidikan tinggi (84,4%), pengetahuan gizi baik (61,9%), media yang tidak terpapar yaitu cetak (72,4%) dan elektronik (86,7%), serta yang tidak bekerja (68,6%). Sedangkan hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan yang signifikan dengan status gizi adalah konsumsi energi (Pvalue = 0,000), protein (Pvalue = 0,040), karbohidrat (Pvalue 0,000), sarapan pagi (Pvalue = 0,008), makan jajanan (Pvalue = 0,000), dan pengetahuan gizi (Pvalue = 0,000). Hasil analisis yang tidak menunjukkan adanya hubungan dengan status gizi yaitu konsumsi lemak (Pvalue = 0,221), jenis kelamin (Pvalue = ,357), pendidikan (Pvalue = 0,799), keterpaparan media cetak (Pvalue = 0,521), dan elektronik (Pvalue = 0,759), serta pekerjaan (Pvalue = 0,312). Hasil model akhir multivariat yang berpengaruh adalah variabel pengetahuan gizi dengan OR 33,077. Artinya ibu yang berpengetahuan kurang berpeluang 33,077 kali lebih banyak untuk memiliki status gizi buruk daripada ibu yang berpengetahuan baik. Saran dari penelitian ini adalah peningkatan peran aktif Puskesmas melalui program UKS dalam memantau status gizi melalui kegiatan pengukuran (IMT/U) secara berkala, apabila ditemukan gizi buruk maka ditindaklanjuti dengan berbagai upaya penyuluhan dan konseling gizi kepada siswa, guru, dan orang tua.