Analisis Faktor Kepuasan Petugas Ahli Teknologi Laboratorium Medik Terhadap Penerapan Sistem Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Pada Fasilitas Kesehatan Di Provinsi Dki Jakarta Dan Jawa Barat Tahun 2025
dr. henny hanna, ph.d, helda khusun, ph.d;
Klasifikasi: NONE
Laboratorium medis di fasilitas kesehatan merupakan salah satu area dengan
tingkat risiko kecelakaan kerja yang tinggi. Kecelakaan yang dialami oleh petugas Ahli
Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) seperti, tertusuk jarum, terpapar bahan berbahaya
dan beracun (B3), dan tertumpah bahan infeksius, adalah kejadian yang sangat sering
terjadi di laboratorium. Di sisi lain, penerapan sistem manajemen keselamatan dan
kesehatan kerja (SMK3) di laboratorium masih dirasa kurang optimal, banyak model
mitigasi risiko bahaya yang belum diberikan bagi petugas laboratorium seperti pelatihan
K3, pemeriksaan kesehatan rutin, vaksinasi berkala, dan kompensasi perlindungan bagi
petugas. Kondisi ini secara tidak langsung akan mempengaruhi kepuasan kerja pada
petugas laboratorium dan membuat petugas laboratorium melakukan Unsafe Condition
ketika bekerja.
Belum banyak penelitian yang mengkaji persepsi kepuasan petugas ATLM dari
sudut pandang pelaksanaan SMK3 di laboratorium fasyankes. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui berapa besar hubungan faktor-faktor seperti demografi, sarana dan
prasarana, psikososial, dan kebijakan manajemen terhadap kepuasan petugas ATLM yang
bekerja di fasilitas kesehatan di Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat. Penelitian dilakukan
kepada 110 responden ATLM dengan model penelitian kuantitatif berbasis kuisioner
melalui pendekatan Cross Sectional.
Hasil analisis bivariat membuktikan bahwa, terdapat hubungan pada faktor sarana
prasarana meliputi variabel ergonomi kerja (Pvalue 0,003) OR 9,45 ; CI95% (2,362-38,041)
dengan kepuasan petugas ATLM. Pada faktor psikososial, terdapat hubungan meliputi
variabel beban kerja (Pvalue 0,002) OR 8,38 ; CI95% (2,311-30,392) dengan kepuasan petugas
ATLM. Sementara itu pada faktor kebijakan manajemen, seluruh variabel meliputi variabel
pelatihan K3 (Pvalue 0,041) OR 3,75 ; CI95% (1,146-12,296), variabel protokol tanggap
darurat (Pvalue 0,001) OR 14,53 CI95% (3,242-65,128), pelaporan insiden kerja (Pvalue
<0,001) OR 37,08 CI95% (8,448-162,772), dan variabel kompensasi perlindungan (Pvalue
0,010) OR 5,28 ; CI95% (1,503-18,515) terbukti berhubungan dengan peningkatan kepuasan
petugas. Secara multivariat satu-satunya variabel yang paling dominan dalam membentuk
kepuasan petugas ATLM adalah variabel pelaporan insiden kerja (Pvalue 0,003) dengan nilai
Expβ 35,121 ; CI95% (3,474-355,037). Hal ini menunjukan bahwa responden ATLM pada
fayankes dengan kebijakan manajemen pelaporan insiden kerja yang baik di Provinsi DKI
Jakarta dan Jawa Barat memiliki peluang 35,1 kali lebih besar untuk merasa puas
dibandingkan dengan petugas ATLM yang bekerja pada fasyankes dengan sistem pelaporan
insiden kerja yang tidak baik.