Pengaruh Budaya Organisasi Dan Kepemimpinan Terhadap Kinerja Pegawai Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji Dan Umrah Di Kementerian Agama RI
drs. anwar n; dr. bambang dwi hartono, m.si.; prof. dr. ch. suprapto, mm.;
Klasifikasi: NONE
Kinerja pegawai yang belum menerapkan hasil evaluasi capaian kinerja yang masih rendah, budaya organisasi yang menggunakan birokrasi formal, dan kepemimpinan masih berperan sebagai pengambil kebijakan dan memimpin rapat, merupakan beberapa alasan masalah yang ada saat ini. Penelitian bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Budaya Organisasi dan Kepemimpinan terhadap Kinerja Pegawai Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama RI. Metode yang digunakan kuantitatif dengan teknik analisis jalur (path analysis). Pengambilan sampel menggunakan teknik acak sederhana proporsional (proportional random sampling). Sampel penelitian adalah pegawai Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama RI yaitu sebanyak 166 responden. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner yang berbentuk skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan : Pertama, skor koefisien jalur antara budaya organisasi terhadap kinerja pegawai sebesar 0,388 dengan thitung sebesar 4,865 > ttabel (1,654 pada α = 0,05). Karena thitung 0,388 > ttabel 1,654 pada α = 0,05, maka H0 di tolak, ini berarti hasil penelitian membuktikan bahwa budaya organisasi berpengaruh langsung dan positif terhadap kinerja pegawai. Artinya
semakin meningkat budaya organisasi, maka semakin meningkat pula kinerja pegawai di kantor Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama RI Jakarta. Kedua, skor koefisien jalur antara kepemimpinan terhadap kinerja pegawai sebesar 0,300 dengan thitung sebesar 3,758 > ttabel (1,654 pada α = 0,05). Karena thitung 3,758 > ttabel 1,654 pada α = 0,05, maka H0 di tolak, ini berarti hasil penelitian membuktikan bahwa kepemimpinan berpengaruh langsung dan positif terhadap kinerja pegawai.
Artinya semakin meningkat kepemimpinan, maka semakin meningkat pula kinerja pegawai di kantor Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama RI Jakarta. Ketiga, skor koefisien jalur antara budaya organisasi terhadap kepemimpinan sebesar 0,642 dengan thitung sebesar 10,729 > ttabel (1,654 pada α = 0,05). Karena thitung 10,729 > ttabel 1,654 pada α = 0,05, maka H0 di tolak, ini berarti hasil penelitian membuktikan bahwa budaya organisasi berpengaruh langsung dan positif
terhadap kepemimpinan. Artinya semakin meningkat budaya organisasi, maka semakin meningkat pula kepemimpinan di Kantor Direktorat Penyelenggaraan Haji dan Umrah di Kementerian Agama RI Jakarta RI Jakarta. Keempat, terdapat pengaruh tidak langsung positif budaya organisasi terhadap kinerja pegawai melalui kepemimpinan, dengan nilai koefisien jalur sebesar 0,504 dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Implikasi penelitian menunjukan perlunya peningkatan dan sosialisasi pada pegawai mengenai budaya organisasi yang dapat mempengaruhi kepemimpinan dan kinerja. Gaya kepemimpinan yang dilakukan harus berorientasi pada lima budaya organisasi yang terdapat di
Kementerian Agama Republik Indonesia, diantaranya: Integritas, Profesionalitas, Inovasi, Tanggung Jawab, dan Keteladanan.