Determinan Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita di Indonesia (Analisis Data SDKI 2017)
fidaniar tiarsiwi, m.pd.; dr. retno. mardhiati, skm.,m.kes; dr.al asyary, skm., mph;
Klasifikasi: NONE
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan penyakit menular yang
menjadi salah satu penyebab utama serta menduduki peringkas teratas dalam
kasus kematian pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan
menganalisis determinan kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada
balita di Indonesia (Analisis Data SDKI 2017). Faktor penentu atau penyebab
terjadinya ISPA pada balita yaitu karakteristik host (penjamu) dari umur, jenis
kelamin, kelengkapan imunisasi, ASI eksklusif, pemberian vitamin A, BBLR, dan
urutan kelahiran, serta faktor environment (lingkungan) yaitu pendidikan ibu,
pekerjaan ibu, penggunaan tembakau, status ekonomi, kepadatan hunian, dan
wilayah tempat tinggal.
Desain penelitian ini dengan pendekatan cross sectional, memakai data
sekunder yang berasal dari dataset Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI)
tahun 2017. Populasi pada penelitian ini berjumlah 16555 responden dan sampel
yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 15187 responden. Analisis
yang digunakan yaitu uji Chi Square dan regresi logistik ganda, serta hasil ukur
Prevalence Ratio (PR).
Proporsi dari kejadian ISPA pada balita di Indonesia adalah 9,4%. Hasil
dari penelitian ini yang menunjukkan adanya pengaruh terhadap kejadian ISPA
pada balita, yaitu karakteristik host (penjamu) terletak pada umur (Pvalue: 0,001),
jenis kelamin (Pvalue: 0,034), kelengkapan imunisasi (Pvalue: 0,042), dan BBLR
(Pvalue: 0,001), sedangkan faktor environment (lingkungan) pada pendidikan ibu
(Pvalue: 0,001), penggunaan tembakau (Pvalue: 0,008), status ekonomi (Pvalue:
0,000), dan wilayah tempat tinggal (Pvalue: 0,001). Kemudian faktor yang paling
berpengaruh secara berurutan adalah BBLR (PR: 1,407), status ekonomi (PR:
1,400), umur (PR: 1,224), pekerjaan ibu (PR: 1,155), dan jenis kelamin (PR:
1,137). Oleh karena itu, secara khusus anak-anak yang rentan ini harus mendapat
perhatian lebih dari kebutuhan zat gizi sampai sistem pelayanan kesehatannya.
Perlunya ibu memiliki pengetahuan yang baik terkait cara menghindari dan
mengatasi gejala awal dari penyakit ISPA ini, salah satu caranya dengan
mengikuti penyuluhan yang diadakan pemerintah sekitar.