Struktur Fisik dan Struktur Batin Antalogi Puisi Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau Karya M. Aan Mansyur
ratna komala dewi; dr. irwan baadila, m.pd.;
Klasifikasi: NONE
Annisa Nurani Febriyanti : 2001045081. “Struktur Fisik dan Struktur Batin Antalogi Puisi Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau Karya M.Aan Mansyur”. Skripsi. Jakarta : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, 2024. Setiap puisi diciptakan dengan gagasan, perasaan, ataupun pengalaman pengarang yang disampaikan secara singkat, estetis, konotatif serta simbolis dalam bahasa yang tersirat. Oleh karna itu seorang penyair selalu menggabungkan struktur fisik dan struktur batin dalam menciptakan karyanya untuk mempermudah pembaca atau pendengar dalam memaknai isi yang ingin disampaikan oleh seorang penyair. Puisi memiliki struktur fisik dan struktur batin sebagai pembangun puisi. Struktur fisik merupakan struktur pembangun puisi yang dapat dilihat dengan panca indra secara langsung yang berupa diksi, tipografi,imaji, kata konkret, gaya Bahasa, dan irama. Sedangkan struktur batin merupakan struktur pembangun puisi yang tidak tampak secara langsung seperti tema, nada, rasa dan amanat.Metode yang digunakan untuk menulis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Peneliti menganalisis struktur fisik dan struktur batin puisi mengapa luka tidak memaafkan pisau karya M. Aan Mansyur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur fisik dan struktur batin antalogi puisi Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau karya M.Aan Mansyur. Hasil dari penelitian ini yaitu 1) Penyair menguasai penggunaan diksi konotatif, imaji, kata-kata konkret, dan majas (personifikasi, metafora, hiperbola) dalam membangun struktur fisik puisi dengan mengagumkan, sehingga mampu mencapai nilai estetis dan keindahan dalam setiap puisinya. 2) Penyair piawai mengolah unsur ritme dan rima (panjang-pendek larik, rima sempurna, asonansi, aliterasi) untuk membangun musikalitas dan penghayatan yang mendalam sesuai dengan tema dan makna puisi. 3) Tema-tema yang diangkat dalam antologi puisi ini antara lain kehidupan, cinta, kematian, eksistensi manusia, pencarian Tuhan, realitas sosial, kepolosan anak, dan lain-lain. Tema-tema tersebut disampaikan dengan nada yang beragam, seperti reflektif, filosofis, romantis, naif, sarkastis, dan lain sebagainya. 4) Penyair berhasil mengekspresikan pengalaman batin dan pergulatan eksistensial manusia dengan gaya bahasa yang puitis, padat, dan bermakna mendalam melalui penguasaan struktur batin puisi. 5) Keseluruhan unsur pembangun puisi, baik secara fisik maupun batin, saling mendukung dan menyatu dalam mewujudkan makna dan keindahan puisi secara utuh.