Majas Dalam Novel Dilan Karya Pidi Baiq Serta Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra Di SMA Deskriptif Kualitatif
m.nurrasyidin, s.e., m.si. ; herwin kurniawan, s.e., m.m.; dr. hj. nini ibrahim, m.pd; dra. hj. rr. sulistyawati, m.hum;
Klasifikasi: NONE
Irfan Ardiansyah. 1301055056. Majas Dalam Novel Dilan Karya Pidi Baiq Serta Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra di SMA. Skripsi. Jakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka, 2017.
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan majas dalam novel Dilan karya Pidi Baiq. Penelitian ini dilaksanakan diberbagai tempat pada semester genap tahun akademik 2016/2017. Dalam skripsi ini, Peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif. Adapun proses analisis data yang dilakukan dengan membaca dan mempelajari novel Dilan karya Pidi Baiq. Berdasarkan analisis data majas dalam novel Dilan karya Pidi Baiq diketahui banyak mengandung majas, contoh majas perumpamaan terdapat pada kalimat suaranya pelan, tapi rasanya seperti petir dan bagai api membakar jerami. Gaya bahasa personifikasi terdapat pada kalimat bel rumah berbunyi, karena dipijit oleh tamu. gaya bahasa depersonifikasi terdapat pada kalimat kayanya aku berubah dulu jadi mannequin. Gaya bahasa koreksio terdapat pada kalimat bagiku, itu adalah sekolah yang paling romantis se-dunia, atau kalau enggak, minimal se-Asia, lah. Gaya bahasa antisipasi terdapat pada kalimat aku harus menjauh darinya. Gaya bahasa hiperbola terdapat pada kalimat perasaanku bagai melambung ke angkasa yang sangat luas. Gaya bahasa ironi terdapat pada kalimat gengster, kok, minta dilindungi. Gaya bahasa sarkasme terdapat pada kata kurang ajar. Gaya bahasa metonomia terdapat pada kata mojang dan teh kotak. Gaya bahasa sinekdoke terdapat pada kata jari telunjuk. Gaya bahasa eufisme terdapat poada kata pengangguran. Gaya bahasa erotesis terdapat pada kalimat apa? Besok bertemu? Bukankah besok hari Minggu? Aku langsung bisa nebak. Gaya bahasa antonomasia terdapat pada kata guru. Gaya bahasa epanalepsis pada kalimat di angkot, aku duduk paling belakang sehingga bisa melihat ada motor, yang melaju di belakang mobil angkot. Gaya bahasa epizeukis terdapat pada kalimat jika hari itu ada yang bilang bahwa hatiku berbunga-bunga, aku langsung akan setuju. Karena bagiku hari itu bukan hari biasa, hari itu adalah hari ulang tahunku, tapi hari itu bukan hari ulang tahunku yang biasa, hari itu adalah hari ulang tahunku yang luar biasa. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu bahwa penggunaan gaya bahasa yang terdapat dalam novel Dilan karya Pidi Baiq berjumlah 83 gaya bahasa, yang terdiri dari gaya bahasa perbandingan berjumlah 18 buah (perumpamaan 8 buah, personifikasi 2 buah, depersonifikasi 1 buah, koreksio 5 buah dan antisipasi 2 buah), gaya bahasa pertentangan berjumlah 22 buah (hiperbola 11 buah, ironi 3 buah, dan sarkasme 8 buah), gaya bahasa pertautan berjumlah 30 buah (metonimia 9 buah, sinekdoke 6 buah, eufisme 2 buah, erotesis 8 buah, dan antonomasia 5 buah), dan gaya bahasa perulangan berjumlah 13 buah (epizeukis 6 buah, anafora 6 buah, dan epanalepsis 1 buah). Oleh karena itu, hasil penelitian ini disimpulkan bahwa gaya bahasa pertautan merupakan gaya bahasa yang lebih dominan yang terdapat dalam novel Dilan karya Pidi Baiq.