Analisis Budaya Organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa
laela fatiya; dr. hj. sri astuti, m.pd; onny fitriana s, m.pd;
Klasifikasi: NONE
ABSTRAK
Mega Saputra. Analisis Budaya Organisasi Badan EksekutifMahasiswa FKIP UHAMKA
Periode2012-2013.Skripsi. Jakarta:FKIPUniversitasMuhammadiyahProf.DR.HAMKA.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Budaya Organisasi
yang ada dan berkembang pada BEM FKIP UHAMKA periode 2012-2013.
Budaya organisasi yang kuat diharapkan mampu mendorong stabilitas sistem,
kinerja kolektif dan eksistensi organisasi yang kuat dan mampu bertahan hidup
dalam persaingan global.
Penelitian digagas melalui pendekatan kualitatif, yang diharapkan
mampu mengeksplorasi berbagai fenomena dan makna yang terdapat dalam
organisasi BEM FKIP UHAMKA. Proses Penelitian dilaksanakan dengan
menggunakan teknik triangulasi data yang terdiri dari analisis dokumentasi,
observasi partisipatif, dan wawancara mendalam. Analisis dokumentasi ini
dilakukan dengan mengumpulkan berbagai arsip yang ada semasa kepengurusan
BEM FKIP 2012-2013 yang terdiri dari catatan dan foto-foto organisasi.
Wawancara mendalam melibatkan beberapa informan diantaranya, ketua umum,
bendahara, sekertaris dan dua mahasiswa FKIP UHAMKA. Observasi partisipatif
dilakukan dengan mengamati secara langsung proses kegiatan BEM FKIP
UHAMKA.
Penelitian ini memfokuskan kajiannya pada beberapa dimensi yang
melingkupi eksistensi budaya organisasi BEM FKIP UHAMKA. Diantaranya,
dimensi inovasi, kinerja, komunikasi, nilai, kepemimpinan, norma dan regenerasi.
Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan maka ditemukan
beberapa point penting tentang dimensi-dimensi yang menjadi fokus penelitian.
inovasi yang terjadi barulah sebatas diadakannya program-program kerja baru,
namun pengelolaan organisasi secara keseluruhan belum mampu
merepresentasikan kebutuhan mahasiwa secara umum.
Kinerja yang ditampilkan BEM FKIP telah menunjukkan keberhasilan
dalam menyelesaikan berbagai target programnya, keseluruhan program kerja
yang direncanakan di rapat kerja awal kepengurusan mampu dituntaskan dengan
baik. Namun persoalan tindak lanjut program, evaluasi program dan instrumen
pengukur keberhasilan program masih menjadi kendala pada kepengurusan ini.
Komunikasi yang terbangun dalam organisasi mampu menghadirkan
iklim organisasi yang bersahabat dan kondusif, namum pola komunikasi eksternal
yang terjadi belumlah cukup untuk menunjang sistem keorganisasisan yang kuat,
seperti halnya komunikasi terhadap alumni dan pimpinan kampus yang hanya
dilakukan jika terdapat suatu permasalahan dan ini terkesan sangat reaksioner.
Nilai kekeluargaan dan kebersamaan menjadi ciri khas BEM FKIP
UHAMKA. Di beberapa kegiatan BEM FKIP seringkali menunjukkan
kekompakan dan keceriannya. Namun keberadaan nilai kekeluargaan dan
kebersamaan belum mampu menunjang sistem organisasi yang profesional dan
sportif.
Norma yang terdapat dalam BEM FKIP cukup membantu bagaimana
seharusnya para pengurus bertindak dan bertingkah laku. Keberadaan regulasi
yang diatur dalam AD dan ART telah mendorong keseriusan dan melegitimasi
viii
keberadaan pengurus dalam berorganisasi, namun penjelasan tentang tugas dan
fungsi bidang masih terkesan bias. Seperti halnya pembagian fungsi antara ketua
dan wakil ketua.
Kepemimpinan yang diperagakan dalam membangun pondasi organisasi
yang kuat telah coba dilakukan oleh ketua umum. Memberikan semangat dan
arahan menjadi agenda rutin ketua semasa menjabat sebagai pemimpin tertinggi
organisasi. Namun ketegasan yang menjadi kunci kehormatan organisasi
nampaknya masih terlihat kurang dimiliki oleh ketua umum.
Regenerasi yang diusung BEM FKIP barulah sebatas melakukan
pendekatan-pendekat formal ceremonial, Latihan kepemimpinan tingkat dasar
tentu belum mampu mendorong secara komprehensif kemantapan dan kesiapan
generasi kepengurusan mendatang.
Berdasarkan fenomena dari berbagai dimensi budaya organisasi yang
terdapat dalam BEM FKIP UHAMKA. Maka budaya organisasi yang ada pada
BEMFKIP dalam fase Fluktuasi.
Berdasarkan hasil penelitian diatas maka peneliti memberikan saran:
dalam hal inovasi BEM FKIP disarankan untuk mengaplikasikan lagi berbagai
perubahan yang diusahakan sesuai dengan ranahnya dalam AD dan ART. Dalam
bidang sosial dan kemesayarakatan khususnya, BEM FKIP seyogyanya memiliki
desa binaan sebagai laboraturium peningkatan kapasistas kesadaran sosial
mahasiswa. BEM FKIP seyogyanya kembali kepada fitrah gerakannya sebagai
intelektual movement, hal ini direalisasikan dengan didukung melalui berbagai
kegiatan baik formal maupun kultural yang melingkupi: membaca, berdiskusi dan
menulis
Pada persoalan Kinerja maka BEM FKIP seyogyanya memiliki
instrumen terbaik sebagai alat pengukur atau evaluasi kinerja bidang-bidangnya,
memupuk semangat kerja yang fluktuatif haruslah juga didekati dengan
pendekatan moral dan kultural, memformulasikan suasana rapat yang baru seperti
rapat di luar kampus merupakan salah satu langkah kultural yang bisa dipraktekan,
memberikansurat peringatan dan berbagai langkah tegas organisasional juga harus
diterapkan BEMFKIP untuk mempertegas komitmen kepengurusan
Dalam persoalan komunikasi, maka BEM FKIP harus mampu
menginisiasai berbagai forum baik internal dan khususnya eksternal untuk
menjaga kemitraan organisasi dan memperkuat afiliasi organisasi
Nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan belumlah cukup menopang
terwujudnya organisasi yang kuat, maka nilai keprofesionalitasan kerja haruslah
ditingkatkan, kembali kepada hakikat gerakan mahasiswa maka BEM FKIP harus
mendorong terlahirnya komunitas akademisi yang berkualitas hal ini dapat
diejawantahkan dengan diadakaanya berbagai forum diskusi kultural dan formal
yang essensial dan terukur .
Norma yang ada untuk membangun regulasi dan aturan yang tersirat
maupun tidak tersirat haruslah terus diperbaharui dan diperkuat agar mampu
menjawab tantangan zaman, pembagian tupoksi antar bidang bahkan antar ketua
umum dan wakilnya haruslah memiliki masing-masing arah yang jelas. Untuk
memperkuat dan memeberikan dasar legalitas formal para pengurus, kehadiran
MOU antara BEM FKIP dan para pengurusnya dari semenjak dilantik mampu
dijadikan acuan dalam menindak berbagai kemungkinan buruk yang akan datang.
ix
Kepemimpinan menjadi sumber mata air organisasi, maka tidaklah
cukup hanya dengan menghimbau dan menegur. Sesekali seorang ketua harus
menunjukkan sisi ketegasannya untuk mengkoordinir para anggotanya, dalam
menyusun visi, misi, hingga strategi yang diharapkan memiliki titik temu atau
benang merah didalamnya. Sehingga tujuan BEM FKIP terlihat terstruktur,
terukur dan tidak bias
Regenerasi tidak hanya mampu didekati dengan pendekatan formal
ceremonial, maka menciptakan kantong-kantong perkaderan seperti basis-basis
kos-kosan menjadi salah satu langkah kultural yang bisa dipraktekan BEMFKIP.